" Among The Ruins Of Guilt "



I cried ... because it somehow.
As I recall, some day yesterday I felt my heart like a fire burning in turmoil,
Now, that I find myself as if thrown in Eskimo tribal region.
Oh heart .. was so fast you changing.
Yourself with time was never willing to compromise with people.
I only believe in a sense.
Now I knelt among the ruins of guilt and ego ...
I'm embarrassed to apologize for effrontery my tongue, my prejudices about him is really very good.
Even my throat infection retreated to lose ...
Ah .... FD, where are you?
But I'm willing to Robbie, if you want to test me. That's fine.
But can I ask? Give me strength and courage.
Tired tears melted in bed.
Have these tears stop, my Lord.
Because even YOU have any tears.
And to those who do not know So and so I'm cross-legged among the rubble and molten tears of guilt, Let me preach to God. I would ask him, because I'm sure he will grant it. Therefore, only one thing that can make these chains off,
Forgiveness ...
Forgiveness ...
Forgiveness ...
Maybe you think this is silly and hyperbolic, but it is a taste.
Forgiveness ... forgiveness only.
And I want to make this my ears hear it ..
Although I will ask for your forgiveness only in dreams ...
I want to knelt at your feet, I want you to see me crying asking your forgiveness, for you know I'm not kidding ...

posted under | 0 Comments

" Moon Over My Obscure Little Town "


By: Andrea Hirata


Stranger
Stranger
Someone stranger
Standing in a mirror
I can’t believe what I see
How much love has been taken away from me

My heart cries out loud
Everytime I feel lonely in the crowd
Getting you out of my mind
Like separating the wind from the cloud

Afraid
Afraid
I’m so afraid
Of losing someone I never have
Crazy, oh crazy
Finding reasons from my jealousy

All I can remember
When you left me alone
Under the moon over my obscure little town
As long as I remember
Love has turned to be as cold as December

The moon over my obscure little town
The moon over my obscure little town

(From : “Dwilogi Padang Bulan”)

posted under | 0 Comments

" Kepada Ukhti "



Berjumpa denganmu dalam suatu masa…
mengantarkan diri ini pada labirin hidup yang penuh hikmah…
Biola tua dalam hatiku perlahan tergesek oleh hangatnya angin persahabatan yang kau bawa.
Bio;a tua itu seperti menemukan gemanya. Ia menyala, mengalunkan nada ceria yang telah lama kehilangan raga.
Bersama hujan, pelangi dan jalan berbatu… kita terbentuk menjadi kepompong yang perlahan bermetamorfosa.
Segala indah, segala ceria. Meski air mata mengalir menganak sungai, meski pilu melambai-lambai. Bahkan diujung perih kita pun, kudapati airmata itu berubah menjadi berlian sangat kemilaunya.
Sungguh teman, jemariku kacau menuliskan kata-kata yang tepat tuk melukiskan indahnya pertemuan kita di suatu masa dijalan Dakwah… Telah kucari, kubolak-balik perbendaharaan kata dan segala metafora dalam kepala dan hatiku, namun tak jua kutemukan kata yang indah berbunga-bunga. Karena baru kumengerti, persahabatan kita adalah puisi dan majas terindah sepanjang masa…
Ukhti, Kau adalah cerminku, tempatku berkaca dan mematut diri, matamu memantulkan bayangku, yang selalu mengingatkan betapa kita harus banyak berbenah diri.
Kita semakin dewasa, teman. Kuingat dulu engkau adalah ulat bulu yang lucu dan menggemaskan, lalu tiba-tiba kau mengenakan selimut suteramu, membungkus dirimu dengan kain terindah didunia. Izzahmu terpancang tinggi menggapai kemuliaan.
Kita semakin dewasa. Dan kita terus bermetaforsa. Persiapkan sayap terbaikmu…
Untuk kita penuhi janji-janji sepi yang kita ikrarkan diantara sinar rembulan dan desau angin malam. Karena kau tau teman, ada berjuta bintang yang berkedip, menyaksikan janji dan mimpi itu.
Kemudian sebagian bintang itu turun menabrak atmosfer bumi, menciptakan bunga api yang memercik dalam dada dan aliran darah, membuat kita yakin akan kepastiannya.
Malam ini ukhti, ketika kau pandang bintang-bintang itu dari belahan dunia dimana saat ini kau berdiri, maka akan kau dapati bintang-bintang itu tetap sama. Mereka taat pada titahNYA.
Dan meskipun jarak menjauhkan kita…. Namun kita masih punya Rabithoh yang akan menghimpun hati kita dalam ketaatan padaNYA.
Dunia ini hanya ladang untuk berikhtiar… kau ingat kata-kata dari salah seorang Akh itu?
Hemmm… ternyata dia benar. Karena dimanapun kita berada tak menjadi masalah. Tabur kembali benih perjuangan itu, buka lagi ladang ikhtiar yang baru.
Cukuplah sepi nan sendiri mengajarkan kita tentang indahnya persatuan.
Cukuplah airmata mengajarkan kita tentang kearifan.
Cukuplah badai mengajarkan kita tentang kesabaran.
Cukuplah perbedaan mengajarkan kita tentang manisnya dinamika keindahan.
Cukuplah perpisahan mengajarkan kita tentang cinta dan kerinduan. Karena cinta mudah luntur dalam kerapnya kebersamaan, karena rindu tak kan tercipta tanpa perpisahan.
Teman, kita sedang membangun cinta. Menuai rindu dan airmata.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

"Your Messages Here...!"

Jam

Mengenai Saya

Foto saya
AKU... ENTAHLAH... YANG JELAS AKU ADALAH DIRIKU.. TAK PEDULI ORANG BERKATA APA.... DIRIKU YANG TAK SEMPURNA INI HANYA INGIN SELALU MEMBERI ARTI..

Followers


Recent Comments