"Aku Hanya..."

Mungkin bagimu…
Aku hanya bunga layu yang tak pernah menarik perhatianmu… Aku tau!
Aku hanya seonggok daging berserak yang terbuang dan tak ada orang yang berpikir untuk memungutnya… Aku tau!
Aku hanya selaksa lara yang hanya bisa membut hatimu susah saja… Aku tau!
Aku hanya lautan airmata yang tak pernah kau inginkan.. Aku tau!
Aku hanya serumpun rumput liar yang akan kau pangkas dengan segera.. Aku Tau!
Aku hanya gelas retak yang tak kan pernah bisa menampung kata-katamu yang mendidih… Aku tau!
Aku hanya jeritan nelangsa yang menggangu tawa bahagiamu… Aku tau!
Aku hanya lumpur hitam yang mengotori lantai rumahmu…Aku tau!
Aku hanya kata-kata sampah yang membuatmu muak… Aku tau!
Tapi…. aku tak kan peduli bagaimana pendapatmu.
Karena bagaimanapun diriku…
I LOVE MY SELF

posted under | 0 Comments

"Kepak Sayap Basah"

Tak terhitung berapa rentang waktu yang telah terangkai menjadi lembar-lembar kisah. Semuanya bersimpul…mengerat…melekat dan menyatu menjadi hamparan tikar sejarah.
Disini…tempat dimana waktu berputar tak beraturan…. ku selalu mencoba bangkit dari keterpurukan. Meski hatiku terkadang rapuh…. namun kudayakan… kukerahkan seluruhnya untuk menapak.
Dan kepak sayap basah menari seiring irama hujan… susah payah kuayunkan lengan, hingga putus asa datang menyergap lelahku….!
Sang waktu meniup peluit panjangnya.. namun tak jua bisa kugapai udara…
Lelah… nafasku tersengal, kurasakan bumi berputar lebih cepat, tak menghiraukan aku yang tertatih mngejar sisa siang dan detik. Yah…. waktu memang hanya menyisakan detik untukku. Bukan menit, jam apalagi tahun..!!
Ada yang bilang…. Life Is a Journey… tapi aku sendiri tak tau..
Inikah perhentian terakhirku???
“ ALLAHU ROBBI… Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati… terbitkan rasa cinta itu dalam hatiku… rasa cinta terhadap hal-hal yang Engkau cintai…Bakar aku dalam tungku semangat yang membara… karena aku juga ingin seperti mereka. Hanya saja, pintu hati ini masih enggan untuk terbuka…
Selamatkan aku dari kesia-siaan…
Sungguh… aku tak berdaya… aku tak berarti tanpa Rahmat dariMu…
Maka Tolonglah aku Robbi… berikan kesempatan itu… perasaan agung itu.. Kumohon.
Azzahra Dormitory, June “10”

posted under | 0 Comments

"Pilu Bersama Waktu"

Kucoba menuai tenang bersama bintang…, sulur-sulur damainya menjuntai anggun pada dinding hatiku yang usang. Kemilaunya mengerjap manja pada hamparan langit hitam. Pucuk-pucuk daun tersiram udara malam, dan jalan-jalan mendadak sepi dari seretan langkah. Sama seperti lorong hatiku yang masih saja oleh deskripsi.
Terpaksa… kuhirup lelapku hingga mimpi datang berjelaga melukis alam bawah sadarku.
Biar.. biar aku kalah oleh waktu. Sebab aku tak kan patuh meski titahnya mengiris sisa-sisa umurku!
Biar… biar waktu menang atasku. Menyimpul tali batas yang tak kan pernah membuatku lepas dan bebas…!
Esok jika waktu masih kan berarak.. biar kulukis wajah mentari dengan mendung.. agar kau diam dan memakai tudung..!! HA..Ha..Ha..:(

posted under | 0 Comments

'Mencari- MU"

Di selasar hati yang sepi aku berlari,
Mengejar angan dan pendarmu
Nafasku tersengal…terjerembab..
Bertekuk lutut pada kepongahan dunia
Lelahku mengucurkan keringat
Bagai embun di pagi-Mu yang senyap
Sayup gemamu mengalun diujung dengarku
Bagai hembusan angin dimalam-Mu yang lelap
Dimana…dimana wujud-Mu…
Mereka bilang engkau dekat, sedekat urat leher.
Namun ketika kuraba…
Tak kutemukan wujud-Mu, disana
Dan gamang pun merambati segenap inderaku.
Bias-Mu suram menembus jagat hati
Iblis tertawa, menabuh genderang kemenangan…
Tapi, aku masih berlari…
Makassar,11 November 2009

posted under | 0 Comments

"Dalam Senyap"

“Cahaya-Mu senyap….
mengerjap dalam sepi yang lelap…
Hatiku memelas…
Karena jiwaku yang lawas…
Menebas batas mencari cahaya meski seberkas…
Namun tetap berlarilah jiwa..
Hingga jalan terluka oleh jejakmu…
Biar waktu bergetar oleh tabuhan genderang jiwamu…”
Makassar, Juni 2010

posted under | 0 Comments

"Karena Azhar Center Adalah Sebuah pilihan"

“Karena Azhar Center Adalah Sebuah Pilihan”
Ada satu hal yang sangat ingin kukatakan. Bahwa Ingin kuawali kisahku ini dengan kejujuran. Bahwa aku terperangkap dalam pusaran kebingungan ketika rasa dan rasio ku memaksa untuk menuliskan kisah ini. Entahlah, terlalu banyak hal yang terjadi selama aku berada dikampus ini. Sementara otakku sendiri tak cukup mampu untuk merekam beribu kisah yang bernyanyi. Namun, meski kebingungan membendung semua kata-kata yang ingin kuurai, tetap saja, dengan segala kejujuran hati, ingin kutarikan segenap jemariku untuk mengukir kata yang kan bertransformasi menjadi kalimat-kalimat hati hingga akan kaudapati sebuah kisah klise yang mungkin membosankan. Tapi aku tak peduli, yang jelas aku telah berusaha menuliskannya dengan jujur, dengan segenap perasaanku, meski kalimatnya basi, miskin metafora dan kalimat indah mendayu-dayu. Biar saja seperti itu.
Tak banyak yang bisa kukisahkan mengenai kampus ini. Seperti yang telah kukatakan, hanya selaksa kisah klise yang aku tau sebagian mahasiswa Azhar juga merasakannya. Yah, kesan indah tak terlupakan saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Azhar. Hari itu, 5 Oktober 2009, saat mentari siang memanggang bumi, itulah momen yang tak kan pernah kulupa dalam hidupku. Karena tepat pada hari itu, tangan nasib menyeretku kehalaman sebuah gedung berdinding putih beratap hijau. Tak pernah kusangka bahwa dalam satu periode hidupku, Allah menakdirkan aku terdampar di tempat ini . Awalnya, Aku tak berpikir kalau bangunan itu ternyata sebuah kampus. Menurut berita yang kudapat dari Ustadz yang mengutusku di Luwu timur, nama kampus itu Al-Azhar Center. Wow.. hebat sekali kedengarannya, aku jadi teringat Universitas Al-Azhar Di Cairo, Mesir. Maka, gambaran Azhar Center yang tersetting dipikiranku, pasti tak jauh-jauh beda dari Universitas Al-Azhar yang ada di Mesir itu. Gedung megah ber-arsitektur Timur Tengah lengkap dengan menara-menara yang menjulang ke langit, ruang kuliah yang besar dan nyaman, fasilitas-fasilitas yang lengkap, serta mahasiswa-mahasiswa intelek yang obrolan sehari-harinya tak jauh-jauh dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi terbaru, perkembangan pendidikan, dan kritik tentang pemerintahan yang semakin semrawut saja. Dalam pikiranku mereka adalah titisan Aristoteles, Syekh Ahmad Gozali, Lucretius,Yusuf Qordhowi, Hasan Al-Banna dan punggawa-punggawa ilmu pengetahuan lainnya. Cerdas bukan buatan para mahasiswa itu. Keren juga pikirku.
Maka aku kaget ketika mendapati dihadapanku kini sebuah gedung mungil berlantai dua yang didepan pintu masuknya ada spanduk bertuliskan “ Tahfidzul Qur’an”, dan diruangan sebelahnya yang mirip kelas itu, ada toko busana muslimah. Hanya tulisan besar dan toko itu yang kuingat, selebihnya tak kuperhatikan. Tapi yang jelas dapat kusimpulkan dari tulisan di spanduk itu bahwa disini dibuka pendaftaran siswa SD Islam Terpadu. Maka kupikir, bangunan itu adalah SDIT merangkap Toko Busana Muslim, sehingga aku tak merasa bahwa itulah gedung kampus Azhar yang dimaksud.
Mataku justu tertuju kearah menara kuning bercampur warna hijau yang berdiri tegak melatari rerimbunan pohon mangga, kira-kira 70 meter dari gedung berspanduk “Tahfidzul Qur’an” itu. Lalu dengan yakin kukatakan kepada teman yang mengantarku bahwa itu pasti menara mesjid kampus Al-Azhar. Temanku itu tidak yakin, namun kutarik tangannya untuk memastikan hipotesisku. Hasilnya, ketika kami sampai didepan menara itu, temanku tertawa tertahan karena menara itu ternyata adalah menara mesjid Nurul Amin.
“Jadi, kampusnya yang mana ini?” Kataku sambil menatap kosong masjid didepanku. Aku mulai bimbang. Bayangan kampus Al-Azhar yang indah dan berwibawa perlahan menguap dari kepalaku.
Dengan sisa-sisa tenaga yang kami miliki, disertai rasa haus yang mengigit kerongkongan, kami berjalan menyusuri sepanjang jalan beraspal di lorong itu, ketika melewati gedung hijau yang berspanduk “Tahfidzul Qur’an” itu lagi, temanku menoleh dan mengatakan bahwa mungkin memang benar, itulah kampus Azhar yang dimaksud. Aku tidak terima. Kutarik lagi tangan temanku itu agar segera melanjutkan perjalanan menyusuri jalan beraspal, hingga akhirnya kami sampai didepan Gedung SMA 13. Mataku berlari kesan-kemari, mencari-cari papan nama bertuliskan “Universitas Al-Azhar Makassar” . Tapi, sampai dikompleks perumahan Pesona Prima Griya, tak kutemukan papan nama itu. Matahari semakin panas menyengat, jalanan lengang, hanya ada beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa sambil memicingkan mata dan mengusap peluh. Yang lainnya lebih memilih beristirahat didalam rumah sambil menyalakan kipas angin daripada mengumpan diri diterik matahari siang. Untung saja, saat itu kami berpapasan dengan seorang ibu muda,yang memakai payung, bayinya mengeliat kepanasan dalam gendongannya. Kami menuju kearah ibu itu dan menanyakan dimana kampus Al-Azhar berada.
‘Permisi bu, mau nanya, Universitas Al-Azhar dimana, ya?”Tanya temanku.
‘Oh, saya juga tidak tau itu!” Jawab ibu itu dengan wajah meringis.
Maka kali ini, bayangan kampus Azhar yang indah dan berwibawa menguap 70 persen dari kepalaku. Kalau memang benar ada Universitas disini, mana mungkin masyarakat sekitar tidak mengenalnya. Lagi pula aku berpikir, mana ada Universitas dipedalaman kota seperti ini. Aku mulai putus asa. Kuajak temanku untuk pulang saja, namun ia bersikeras ingin tetap mencari kampus itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih sedikit. Kukatakan kepadanya bahwa tidak mungkin jam segini kantornya masih buka, jadi kalaupun nanti kita temukan kampusnya, kita pasti terlambat dan disuruh kembali besok. Apalagi kami sudah sama-sama lelah dan lapar, jadi lebih baik pulang saja dulu. Dia berpikir sejenak, kemudian menyetujui ideku.
Tapi, sebelum sampai dijalan raya, tiba-tiba handphone ku berdering. Ada pesan dari pemandu jalan -seorang mahasiswa Azhar, seutusan dari Luwu Timur juga- yang mengatakan bahwa memang kampus Azhar itu belum punya papan nama, atapnya berwarna hijau, temboknya bercat putih dan ada SDIT dibelakang kampus. Aku terkesiap.
“Berarti benar, gedung yang ada tulisan Tahfidzul Qur’an yang tadi kita lewati itu Kampus Azhar! Ayo kembali kesana!” Tiba-tiba temanku berseru penuh semangat. Kami memutar haluan, tidak jadi pulang. Kali ini, dia yang menarik tanganku dengan antusias.
Sebelum melangkahkan kaki dihalaman gedung Azhar itu, aku menarik nafas. Temanku menggenggam tanganku erat, ia menatap wajahku dengan pasti seolah mengatakan “Anti pasti bisa, percayalah, Insya Allah inilah yang terbaik “. Aku tersenyum. Kami kemudian pergi menemui seorang Ustadz untuk mendaftarkan diri, sesuai dengan instruksi. Aku menyerahkan foto copy ijazah,surat tanda berkelakuan baik, plus surat rekomendasi dari DPD Luwu Timur, kemudian aku mengikuti serangkaian tes. Setelah semuanya beres, aku tinggal menunggu keputusan dari pihak Azhar Center. Dan akhirnya tepat pada tanggal 8 Oktober 2009, pukul 13:53 WITA, aku mendapat pesan dari pihak kampus bahwa aku diterima menjadi mahasiswi STIS Al-Azhar, konsentrasi Ekonomi Islam.. Tak dapat kugambarkan bagaimana perasaanku ketika itu, senang bercampur bimbang, aku tersenyum getir menatap pesan itu. Pikiranku melayang jauh, tersedot oleh dimensi waktu yang berbeda. Lalu teringat kembali proses panjang penuh kebimbangan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar memilih Azhar Center. Jauh hari, sebelum aku lulus dari SMA tercinta, sudah kurencanakan sedemikian rupa masa depanku, serapi-rapinya. Bahkan aku selalu tersenyum ketika membayangkan bisa lulus disalah satu Universitas paling diinginkan di kota Makassar. Lulus menjadi mahasiswi dalam jurusan yang sangat kuidam-idamkan. Tapi sayang, Allah tak menginginkan aku berada di Universitas itu. Sesuatu yang lebih baik ternyata menungguku, meskipun sebenarnya sangat berlawanan dari apa yang kuinginkan Meskipun awalnya aku merasa tidak menjadi diriku sendiri. Aku tertekan dengan mata kuliah yang sama sekali asing bagiku. Setiap kali belajar, aku merasa sangat tersiksa karena tak mengerti apapun yang dikatakan Dosen. Bayangan kegagalan menari-nari dipelupuk mataku. Aku semakin stress. Peran sebagai utusan daerah, bagaikan belenggu bagiku, yang benar-benar membuatku takut tidak bisa memberikan yang terbaik jika melihat kualitasku yang ada sekarang ini. Aku berpikir, entah apa yang menjadi pertimbangan para penghulu didaerah hinnga memilihku. Aku merasa tidak pantas mendapatkannya
Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menyikapinya dengan Arif. Semangat dan dukungan dari kakak-kakak diasrama perlahan menyadarkanku dari rasa pesimisme. Mereka bilang, perasaan seperti itu wajar, karena mereka pun merasakan hal yang sama saat pertamakali berada di kampus Azhar. Mereka seperti secercah cahaya yang menerangi nebula gelap fikiranku. Ada cermin dikedua matanya, tempatku berkaca dan mematut diri. Ada nyanyian surga dikedua bibirnya, tempatku mendengar suara-suara nurani. Ada pilar dikedua bahunya, tempatku bersandar dari kerapuhan hati. Ada saputangan dikedua tangannya, tempatku menghapus luka dan perih. Ada semangat dalam langkahnya, yang mengajarkanku untuk berjuang tak kenal letih. Mereka adalah keluarga terbaik yang pernah kumiliki. Walaupun terkadang ukhuwah itu berhias perih dan airmata yang disebabkan rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh kekhilafan masing-masing. Tapi biarlah seperti itu, toh kami semua masih dalam proses perbaikan, kami selalu berusaha untuk saling mengerti. Kami semua menyadari bahwa, tak perlu merasa gusar dan bersempit hati atas sikap keliru itu, milikilah hati yang bagaikan samudera maaf tak bertepi, meski terkadang memaafkan itu terasa begitu sakit dan menyesakkan dada. Namun, kebaikan itu juga terlalu sia-sia untuk diracuni oleh amarah dan benci. Selain itu, motivasi dan teladan yang diberikan ayah dan ibunda dosen, berhasil membuka fikiranku tentang seperti apa hidup yang sebenarnya. Mereka dengan segala kesederhanaan yang dimiliki, dengan segala pengorbanan yang diberikan kepada kami, membuatku terharu dan merasa sangat beruntung berada ditempat ini, ditengah orang-orang yang mulia. Memiliki dosen-dosen hebat, pahlawan tanpa tanda jasa. Karena pada hakikatnya mereka pun tak ingin apa-apa dari kami. Hanya satu harapannya untuk kami. Yaitu melihat kami terbentuk menjadi generasi penerus estafet dakwah yang berkualitas dan berakhlak mulia. Hanya itu yang mereka inginkan. Hanya itu. Pernah suatu ketika, secara tak sengaja, aku membuka file-file dikomputer perpustakaan, lalu aku menemukan file gaji dosen. Kubuka data itu, dan alangkah terkejutnya ketika kudapati gaji dosen di Kampus Al-Azhar bahkan lebih kecil dari gaji guru SD. Dan rasa kagum serta penghormatanku pun semakin melambung seiring airmata yang mengalir di pipi.
600 ribu kawan, 600 ribu perbulan gaji dosen kita. Jika difikir, akan sampai dimana uang itu bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus melonjak dan tak terduga seperti sekarang ini. Apalagi untuk ukuran kota Makassar. Aku bahkan berfikir, dalam rentang waktu satu bulan itu, pasti ada diantara dosen kita yang kehabisan beras dirumah mereka. Lalu, mengapa mereka mau repot-repot mengurusi mahasiswa Azhar. Membuang-buang waktunya untuk mendidik kita. Lelah dan penat. Menguras isi kantongnya untuk menutupi biaya-biaya kampus, dan kepentingan perkuliahan mahasiswa Azhar. Habis, terkorupsi, terkorosi.
Kawan , kalau mereka mau, dengan kualifikasi seperti itu, mereka bisa saja mengajar ditempat lain yang lebih bisa memberikan kenyamanan finansial, dan materi yang mencukupi. Tapi tidak. Mereka terus saja memfokuskan seluruh fikiran dan tenaganya demi kita. Sehingga, jika ada penghargaan tertinggi, maka Dosen Azhar lah yang berhak mendapatkannya.
Dimana lagi bisa kudapati Dosen-Dosen mengagumkan seperti ini, selain di Azhar Center. Dimana lagi suasana perkuliahan yang aman dan terjaga bisa kudapati selain di Azhar Center. Maka, kampus ini, dengan segala apa yang ada didalamnya, benar-benar memberikan kesan yang begitu indah dan takkan pernah terwakili meski ditulis dengan tinta emas. Betapa beruntungnya aku….
Setelah semua yang kulewati, setelah pertarungan panjang melawan egoisme dan kebimbangan, maka aku yakin inilah jalan yang dipilihkan Allah untukku. Ada suatu hal yang menakjubkan menungguku dibalik gedung berwarna putih beratap hijau itu. Dan benar, disanalah aku mengumulkan kembali azzam yang berserak, mengetahui hakikat sejati tentang hukum-hukum Allah, yang selama ini dinafikan oleh umat manusia. Mulai saat itulah, kuubah arah lokomotifku mengikuti rel para Perintis Kebangkitan Syari’ah, yang mengazzamkan dirinya demi kebangkitan, dan tegaknya hukum Allah dimuka bumi. Tak berlebihan, aku mencintai Azhar Center dengna segenap jiwaku, jika ada yang memarginalkan dan mencibir kampus kami, aku akan berkata “ Kau tau apa tentang Azhar Center? Don’t judge the people by the cover!”. Sehingga apapun yang terjadi, jika Allah masih percaya kepadaku untuk menjalankan amanah ini, jika aku memang masih pantas menjadi mahasiswi Azhar, dengan segenap daya yang kumiliki, akan kukerahkan jari-jemari ini untuk mengukir cinta diatas pelangi, meski redup meski terkatup. Karena inilah jalan yang kupilih, maka aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Dan aku berharap, warna apapun yang kubawa di tempat ini, bisa memberikan nuansa tersendiri, berbaur mengukir kisah diatas pelangi Azhar bersama keindahan warna pelangi yang lain. Semoga saja…

Makassar, Mei 2010
Azhaar Al-Khansa’
Semoga Istiqomah…hingga Khusnul Khotimah…

posted under | 0 Comments

"Biru Galesong"

"Tak pernah terpikir akan ada di tempat ini..
For the first time.. semuanya biasa-biasa saja.
Dimulai dari perjalanan yang sedikit membosankan..tapi penuh dengan pemandangan indah.
Kau tau Dear...
Lajur-Lajur awan Cumulus,seperti saput yang dilukis halus dikanvas langit.
Petak-Petak sawah yang sedang diusahakan,tampak menguning siap dipanen.Sawah yang masih hijau terhampar seperti permadani yang ditenun sepenuh hati..
Pohon-pohon besar tumbuh liar teratur memayungi jalan.
Tentu saja sangat berbeda dengan pemandangan kota makassar yang sejauh-jauh mata memandang hanya ada deretan gedung yang seakan berlomba-lomba menggapai langit.
Kau tau Dear..awalnya aku tak mau datang ketempat ini.
Tapi..aku berusaha meniatkannya karena ALLAH..
And SURPRISE..
Sejauh-jauh mata memandang , hanya ada hamparan laut membiru lembut...
Anak-anak pantai berenang dan membiarkan tubuh kurusnya terhempas dipermainkan ombak, teriakan girang mereka lebur bersama gelombang mendebur-debur. Sepohon bakau tumbuh sendiri,akarnya menyembul keluar,seakan berkata kepadaku betapa kekarnya dia..Longsoran pohon kelapa menjuntai anggun menggoda ombak...
Indah..
Kuhirup aromanya dengan sepenuh jieaku..
Senyumku mengembang..kurentangkan tanganku membiarkan angin pantai meniup-niup wajahku..kerudung pink ku melambai manja menyapa semilir angin pantai
Hari sudah siang..kurasakan panas mentari memanggang kulit wajahku..tak kupedulikan keringat yang meleleh membasahi pelipis tetap Kubiarkan kakiku berjalan menyusuri pantai.
lalu,kuambil sebilah bambu yang terdampar tepat dibawah kakiku..aku percaya..bambu itu sudah menungguku sekian lama untuk kujadikan pena..melukis semua perasaan bergelora,mimpi-mimpiku,dan menulis namaku diatas pasir sembari berlomba dengan ombak.

Wuiihh so sweet...
I'm very happy Because i used to imagine about that..
dan diantara debur ombak,hatiku berseru..
"HAI DUNIA..AKU DATAANG!!!"
I'm very satisfied...seakan semua penatku hilang dibawa angin pantai..
Ya ROBB...terimakasih untuk hari yang begitu indah ini.
Biarkan aku menikmati rahmat-MU dengan sepenuh hati..hingga kalbuku basah oleh airmata syukur dan pengAgungan atas segala kebesaran-MU....
APRIL,2,2010
(Dan Mendung pun Berarak)

posted under | 0 Comments

"IBU..."

IBU…
Kudengar lantunan rindu pada sujud dedaunan…
Hatiku gerimis, pedih mengiris
Kutambatkan lukaku, pada ketidakpastian rasaku
Syahdu kudengar debur kalbu
Ibu…
Senyap merayap dalam labirin jiwaku
kata-kataku pun terhenti. Namun imajinasi akan tetap berarak tinggalkan jejak.
Ibu…
Terpisah jarak terentang waktu
Kalimatku kabur menafsirkan rasa yang samar-samar
Ibu…
Sehampar duka, selaksa lara.
Ibu… rinduku dilanun keputusasaan. Adakah bisikan hatiku bekumandang direlung jiwa-Mu?
Ibu…
Kulafadzkan do’a dalam sujudku yang tak sempurna…
BIar kupayungi air matamu dengan do’aku…
Agar kelak dapat kuraih syurga ditelapak kakimu.

posted under | 0 Comments

"Sang Pemantik Bara"

“Sang Pemantik Bara”
Aku mengenal beliau ketika diri ini masih gamang menetapkan tujuan… Ketika jiwa ini kerontang akan suatu makna.
Ketika diri ini masih sibuk merutuki nasib, tak mampu menyibak tirai-tirai hikmah yang terhampar indah didepan mata.
Kehadirannya seperti semilir angin utara yang memberi kesejukan pada gersang jiwaku. Kehadirannya bagai saputangan yang menghapus peluh dan airmataku. Kehadirannya seperti hujan yang membasahi tandus tanahku. Kehadirannya bagaikan kompas yang menunjukkan arahku. Kehadirannya seperti sebuah oase yang selalu siap menyuguhkan air jernihnya untuk melepas dahagaku.
Kata-katanya seperti sihir buat kami. Gaya berbicaranya sangat ekspresif, bersahabat, namun penuh wibawa. Jika beliau berbicara, seakan seluruh indera ini akan rugi jika tidak menyimak untaian katanya yang sarat hikmah dan pembangun jiwa. Seluruh hati ini, fikiran ini, jiwa ini, hanya tertuju pada sosoknya yang kurus berkacamata.
Beliau memiliki seorang istri yang manis dan berhati lembut, serta seorang anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Keluarganya begitu harmonis, itulah yang bisa kutangkap setiap kali beliau bertemu dengan istrinya.
Dulu, di semester satu, mata kuliah Tarikh wa Hadharah (Sejarah Peradaban Islam) dan Bahasa Indonesia adalah mata kuliah favoritku. Bukan saja karena aku memang sangat mencintai pelajaran sejarah, tapi, setiap kali mengajar, beliau selalu menyelipkan ceramah motivasi. Sesuatu yang sangat kusuka.Kata-kata beliau bagaikan pemantik api yang menyalakan bara semangat didalam dada kami. Kata-kata beliau bagaikan muntahan peluru-peluru mitraliur yang menghujam sukma, menggedor pintu batin dan kesadaran kami, untuk bangkit dan membuktikan kepada dunia betapa hebatnya diri kami ini.
Beliaulah orang yang pertamakali membuat aku bangga dengan diriku. Membuatku berani menghadapi ketakutanku akan masa depan. Beliau..beliaulah yang pertamakali membuatku mencintai diri sendiri, membuatku yakin betapa istimewanya diriku, bahwa aku yakin akan akan menjadi matahari bagi peradaban, dan membuatku berani berseru…”Yeah, I’m is The Leader!!!”.
Waktu dua jam pelajaran serasa satu menit. Aku seperti tak ingin pulang. Jika saja aku boleh meminta agar waktu berhenti saja, maka aku akan sangat bahagia karena dengan begitu, aku selalu bisa menikmati kata-kata hipnotis beliau. Seperti Romy Rafael saja.
Beliau juga berhasil menyentak kesadaranku, bahwa betapa selama ini sejarah yang kupelajari di SMU, penuh dengan distorsi. Serba terbalik. Kegemilangan-kegemilangan sejarah yang pernah ditorehkan oleh pejuang-pejuang Islam tak pernah ditampilkan, sebaliknya tokoh-tokoh pengkhianat dan penjahat dalam sejarah ditampilkan sedemikian rupa agar memberikan kesan kepahlawanan. Sungguh Ironis. Mulai saat itulah, aku berazzam untuk menjadi ahli sejarah. Akan kukembalikan semua sejarah kegemilangan Islam yang telah terdistorsi. Bahkan aku berfikir, jika saja seminggu penuh hanya ada pelajaran Tarikh, pasti aku takkan pernah berfikir untuk pindah dari Azhar Centre.
Ya, begitulah. Aku selalu menertawakan diri jika menoleh kebelakang, dan mengingat masa-masa rapuh di semester satu. Betapa aku aku selalu merutuki diri, menyalahkan takdir yang menghempasku dalam dimensi kepiluannya. Membuatku menangis, membenci hidup yang telah menjauhkanku dari jiwaku dan juga cita-cita awal yang kurajut dengan indah sejak kelas satu SMA. Ya, aku membenci Azhar Centre. Aku merasa kehilangan Azzam justru ditempat yang baik dan terjaga. Semangatku lenyap ditiup angin utara. Aku tidak suka dengan mata kuliah berbahasa arabnya yang membuat kepalaku terasa mau pecah. Aku tertekan. Aku tersesat. Aku merasa jauh dari mimpi dan diriku sendiri. Aku dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan batin yang harus kucari jawabannya. Tapi, Taujih-taujih ruhani dari beliau perlahan menjawab semuanya. Meski, sampai sekarang pun, aku masih merasa gamang. Tapi paling tidak, aku sudah bisa menyesuaikan diri, dan menerima semuanya. Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi esok. Sebab, satu kebenaran sederhana yang kupahami dari kitab-kitab kehidupan, bahwa “Hal-hal yang baik itu, pasti banyak tantangan dan cobaannya”.
Aku tak tahu banyak mengenai beliau. Pada kesempatan ini aku hanya mampu menguraikan semua rasa kagum dan penghormatanku kepada beliau, sang Dosen idealis, yang rela menisbahkan waktu, fikiran, dan tenaganya untuk mendidik kami dikampus Non-Profit ini.
Ada satu hal yang selalu beliau katakan “Jangan pernah berfikir untuk keluar dari Azhar Centre…” maka aku harus bertahan. Apapun yang terjadi. Kampus ini, bukan hanya mencetak mahasiswa yang matang dari segi akademik, namun dapat kurasakan betapa Azhar Center menginginkan kami menjadi generasi yang tangguh dan tahan uji, karena kami sadari, diluar sana begitu banyak tantangan.,alam akan menyeleksi, hingga terbukti, hanya orang-orang yang tangguh dan ikhlaslah lah yang mampu bertahan.
Terimakasih, ROBBI… kepadaMU, rasa syukur yang terbesar kupanjatkan. Telah KAU kirimkan perantara untuk menyadarkanku, mengumpulkan kembali serpihan-serpihan azzam yang pecah oleh ketidaksadaranku akan Kasih sayangMU.
Disini, di “Kampus Perjuangan”, aku menemukan apa yang kucari selama ini. Kehausanku akan sesuatu yang berbeda, benar-benar telah tertawar disini. Ternyata, semuanya tak seperti yang kubayangkan, Azhar Centre adalah taman bunga, Azhar Centre adalah miniatur surga.
Dan kepadamu, sang pemantik bara… Dosen kami… Motivator kami. Terimakasih telah menyalakn api semangat dalam dada kami, hingga ia berpendar, dan menjadi suluh dalam perjalanan ini.
You raise me Up.. So I can stand on Mountains.
Semoga Istiqomah….Hingga Khusnul Khatimah.
Jazakallah.

posted under | 0 Comments

"Nyanyian Luka Untuk Sang Bintang"

Haruskah aku bertahan…
Menjadikan luka sebagai mahkota,
hingga hatiku tau akan kemana kalbu bertahta.
Namun biarkan pagi terbit, meski nisan aku tau akan segera menancap.
Embun pagi menari sunyi…
Terselip selembar rintih , dalam buku usang jiwaku.
Aku bosan..!!! Teriakku.
Sepi… masih menggigit
Aku lelah…!!! Jeritku.
Dingin… masih menusuk.
Kata-kataku tercekat, nyeri terasa mengukir senyum dalam senyap yang membatu.
Biar luka kudendangkan.. hingga melodinya memekakkan telinga-Mu.
Teriaklah… hingga putus urat leher.
Biar kalimatku berdemo, memaki, datang berduyun-duyun dengan metafora dan personifikasi bisu.
Dan hitam itu akan KAU ukir dalam pahatan malam…
hingga bintang cemburu , dan bersembunyi di balik awan.:(
Astrid.W
Makassar,14 Desember 2009

posted under | 0 Comments

"Kronologi Sore"

17.45
Petang merambat.. malam mulai turun.
Bias-bias malam jatuh dipermukaan daun..
Pohon-pohon dan jalanan basah oleh hujan yang datang terlambat.

18.30
“Saat Ustadz Ismail memberi Taujih”
Airmataku jatuh bagai titik-titik salju...
menjadi selimut bagi gersang dan hatiku yang meranggas..
Ya ALLAH, ya ROBB..
Betapa banyak waktu yang terbuang dalam kesia-siaan..
Betapa banyak waktu yang berlalu tanpa perbaikan.
Maafkan kealpaan kami, ya ROBB..
Jadikanlah hari kedepansebagai ruang untuk bertobat dalam setiap hela nafas kami. Berikan kami kekuatan untuk memanfaatkan waktu demi kebaikan.
Kekalkanlah azzam didada kami. Dan meski harus surut, maka jangan biarkan dia terlalu jauh meninggalkan kami. Kuatkanlah tekadku, ya ROBB….Karena aku ingin memberi arti kepada orang lain. Agar jika kelak saatnya tiba untukku menemuiMu, aku tidak akan datang dengan rasa malu menyelimutiku.

posted under | 0 Comments

" Gurat Senja"

Sore yang manis,,, kawan!
kudengar senandung senja bergema di ufuk barat...
auranya merdu , bagaikan nyanyian seribu pantai...
angin sore bergelayut manja pada pucuk-pucuk daun...dan mentari perlahan menyibak tirainya, membuat cahanya redup pelan-pelan...
awww,,, mulai gelap..tapi tak apa. Karena pasti malam ini ,kunang-kunang langit akan menemani kesepianku...:):):)

posted under | 0 Comments

"Cerita Tentang Airmata"

"Ketika tak ada lagi hal yang bisa membuatmu berdiri tegak menantang waktu...
Biarkan surya kelabu menjadi teman berbagi luka dan airmata...
Biar selendang badai menampar-nampar wajahmu..
karena suatu saat nanti kau akan datang bersama prajurit damai.
Biar luka mendera..biar perih merintih.....biar teriak beriak....biar airmata bertahta.....
Dan bila saatnya airmata itu bermuara..kan dibawanya ragamu mencari ruhmu...........
Sedang luka , perih , dan teriak mengambil tempatnya diNeraka........"

posted under | 0 Comments

Assalamualaikum blog baruku...
akhirnya setelah perjuangan panjang yang melelahkan..
finally,,,kamu bisa aku create juga...
Temani aku menjejaki mimpi dan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu...yaaaa!
LUV SO MUCH....

Postingan Lebih Baru Beranda

"Your Messages Here...!"

Jam

Mengenai Saya

Foto saya
AKU... ENTAHLAH... YANG JELAS AKU ADALAH DIRIKU.. TAK PEDULI ORANG BERKATA APA.... DIRIKU YANG TAK SEMPURNA INI HANYA INGIN SELALU MEMBERI ARTI..

Followers


Recent Comments