“Sang Pemantik Bara”
Aku mengenal beliau ketika diri ini masih gamang menetapkan tujuan… Ketika jiwa ini kerontang akan suatu makna.
Ketika diri ini masih sibuk merutuki nasib, tak mampu menyibak tirai-tirai hikmah yang terhampar indah didepan mata.
Kehadirannya seperti semilir angin utara yang memberi kesejukan pada gersang jiwaku. Kehadirannya bagai saputangan yang menghapus peluh dan airmataku. Kehadirannya seperti hujan yang membasahi tandus tanahku. Kehadirannya bagaikan kompas yang menunjukkan arahku. Kehadirannya seperti sebuah oase yang selalu siap menyuguhkan air jernihnya untuk melepas dahagaku.
Kata-katanya seperti sihir buat kami. Gaya berbicaranya sangat ekspresif, bersahabat, namun penuh wibawa. Jika beliau berbicara, seakan seluruh indera ini akan rugi jika tidak menyimak untaian katanya yang sarat hikmah dan pembangun jiwa. Seluruh hati ini, fikiran ini, jiwa ini, hanya tertuju pada sosoknya yang kurus berkacamata.
Beliau memiliki seorang istri yang manis dan berhati lembut, serta seorang anak laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Keluarganya begitu harmonis, itulah yang bisa kutangkap setiap kali beliau bertemu dengan istrinya.
Dulu, di semester satu, mata kuliah Tarikh wa Hadharah (Sejarah Peradaban Islam) dan Bahasa Indonesia adalah mata kuliah favoritku. Bukan saja karena aku memang sangat mencintai pelajaran sejarah, tapi, setiap kali mengajar, beliau selalu menyelipkan ceramah motivasi. Sesuatu yang sangat kusuka.Kata-kata beliau bagaikan pemantik api yang menyalakan bara semangat didalam dada kami. Kata-kata beliau bagaikan muntahan peluru-peluru mitraliur yang menghujam sukma, menggedor pintu batin dan kesadaran kami, untuk bangkit dan membuktikan kepada dunia betapa hebatnya diri kami ini.
Beliaulah orang yang pertamakali membuat aku bangga dengan diriku. Membuatku berani menghadapi ketakutanku akan masa depan. Beliau..beliaulah yang pertamakali membuatku mencintai diri sendiri, membuatku yakin betapa istimewanya diriku, bahwa aku yakin akan akan menjadi matahari bagi peradaban, dan membuatku berani berseru…”Yeah, I’m is The Leader!!!”.
Waktu dua jam pelajaran serasa satu menit. Aku seperti tak ingin pulang. Jika saja aku boleh meminta agar waktu berhenti saja, maka aku akan sangat bahagia karena dengan begitu, aku selalu bisa menikmati kata-kata hipnotis beliau. Seperti Romy Rafael saja.
Beliau juga berhasil menyentak kesadaranku, bahwa betapa selama ini sejarah yang kupelajari di SMU, penuh dengan distorsi. Serba terbalik. Kegemilangan-kegemilangan sejarah yang pernah ditorehkan oleh pejuang-pejuang Islam tak pernah ditampilkan, sebaliknya tokoh-tokoh pengkhianat dan penjahat dalam sejarah ditampilkan sedemikian rupa agar memberikan kesan kepahlawanan. Sungguh Ironis. Mulai saat itulah, aku berazzam untuk menjadi ahli sejarah. Akan kukembalikan semua sejarah kegemilangan Islam yang telah terdistorsi. Bahkan aku berfikir, jika saja seminggu penuh hanya ada pelajaran Tarikh, pasti aku takkan pernah berfikir untuk pindah dari Azhar Centre.
Ya, begitulah. Aku selalu menertawakan diri jika menoleh kebelakang, dan mengingat masa-masa rapuh di semester satu. Betapa aku aku selalu merutuki diri, menyalahkan takdir yang menghempasku dalam dimensi kepiluannya. Membuatku menangis, membenci hidup yang telah menjauhkanku dari jiwaku dan juga cita-cita awal yang kurajut dengan indah sejak kelas satu SMA. Ya, aku membenci Azhar Centre. Aku merasa kehilangan Azzam justru ditempat yang baik dan terjaga. Semangatku lenyap ditiup angin utara. Aku tidak suka dengan mata kuliah berbahasa arabnya yang membuat kepalaku terasa mau pecah. Aku tertekan. Aku tersesat. Aku merasa jauh dari mimpi dan diriku sendiri. Aku dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan batin yang harus kucari jawabannya. Tapi, Taujih-taujih ruhani dari beliau perlahan menjawab semuanya. Meski, sampai sekarang pun, aku masih merasa gamang. Tapi paling tidak, aku sudah bisa menyesuaikan diri, dan menerima semuanya. Aku tak pernah tau apa yang akan terjadi esok. Sebab, satu kebenaran sederhana yang kupahami dari kitab-kitab kehidupan, bahwa “Hal-hal yang baik itu, pasti banyak tantangan dan cobaannya”.
Aku tak tahu banyak mengenai beliau. Pada kesempatan ini aku hanya mampu menguraikan semua rasa kagum dan penghormatanku kepada beliau, sang Dosen idealis, yang rela menisbahkan waktu, fikiran, dan tenaganya untuk mendidik kami dikampus Non-Profit ini.
Ada satu hal yang selalu beliau katakan “Jangan pernah berfikir untuk keluar dari Azhar Centre…” maka aku harus bertahan. Apapun yang terjadi. Kampus ini, bukan hanya mencetak mahasiswa yang matang dari segi akademik, namun dapat kurasakan betapa Azhar Center menginginkan kami menjadi generasi yang tangguh dan tahan uji, karena kami sadari, diluar sana begitu banyak tantangan.,alam akan menyeleksi, hingga terbukti, hanya orang-orang yang tangguh dan ikhlaslah lah yang mampu bertahan.
Terimakasih, ROBBI… kepadaMU, rasa syukur yang terbesar kupanjatkan. Telah KAU kirimkan perantara untuk menyadarkanku, mengumpulkan kembali serpihan-serpihan azzam yang pecah oleh ketidaksadaranku akan Kasih sayangMU.
Disini, di “Kampus Perjuangan”, aku menemukan apa yang kucari selama ini. Kehausanku akan sesuatu yang berbeda, benar-benar telah tertawar disini. Ternyata, semuanya tak seperti yang kubayangkan, Azhar Centre adalah taman bunga, Azhar Centre adalah miniatur surga.
Dan kepadamu, sang pemantik bara… Dosen kami… Motivator kami. Terimakasih telah menyalakn api semangat dalam dada kami, hingga ia berpendar, dan menjadi suluh dalam perjalanan ini.
You raise me Up.. So I can stand on Mountains.
Semoga Istiqomah….Hingga Khusnul Khatimah.
Jazakallah.
Recent Comments