"Karena Azhar Center Adalah Sebuah pilihan"

“Karena Azhar Center Adalah Sebuah Pilihan”
Ada satu hal yang sangat ingin kukatakan. Bahwa Ingin kuawali kisahku ini dengan kejujuran. Bahwa aku terperangkap dalam pusaran kebingungan ketika rasa dan rasio ku memaksa untuk menuliskan kisah ini. Entahlah, terlalu banyak hal yang terjadi selama aku berada dikampus ini. Sementara otakku sendiri tak cukup mampu untuk merekam beribu kisah yang bernyanyi. Namun, meski kebingungan membendung semua kata-kata yang ingin kuurai, tetap saja, dengan segala kejujuran hati, ingin kutarikan segenap jemariku untuk mengukir kata yang kan bertransformasi menjadi kalimat-kalimat hati hingga akan kaudapati sebuah kisah klise yang mungkin membosankan. Tapi aku tak peduli, yang jelas aku telah berusaha menuliskannya dengan jujur, dengan segenap perasaanku, meski kalimatnya basi, miskin metafora dan kalimat indah mendayu-dayu. Biar saja seperti itu.
Tak banyak yang bisa kukisahkan mengenai kampus ini. Seperti yang telah kukatakan, hanya selaksa kisah klise yang aku tau sebagian mahasiswa Azhar juga merasakannya. Yah, kesan indah tak terlupakan saat pertama kali menginjakkan kaki di bumi Azhar. Hari itu, 5 Oktober 2009, saat mentari siang memanggang bumi, itulah momen yang tak kan pernah kulupa dalam hidupku. Karena tepat pada hari itu, tangan nasib menyeretku kehalaman sebuah gedung berdinding putih beratap hijau. Tak pernah kusangka bahwa dalam satu periode hidupku, Allah menakdirkan aku terdampar di tempat ini . Awalnya, Aku tak berpikir kalau bangunan itu ternyata sebuah kampus. Menurut berita yang kudapat dari Ustadz yang mengutusku di Luwu timur, nama kampus itu Al-Azhar Center. Wow.. hebat sekali kedengarannya, aku jadi teringat Universitas Al-Azhar Di Cairo, Mesir. Maka, gambaran Azhar Center yang tersetting dipikiranku, pasti tak jauh-jauh beda dari Universitas Al-Azhar yang ada di Mesir itu. Gedung megah ber-arsitektur Timur Tengah lengkap dengan menara-menara yang menjulang ke langit, ruang kuliah yang besar dan nyaman, fasilitas-fasilitas yang lengkap, serta mahasiswa-mahasiswa intelek yang obrolan sehari-harinya tak jauh-jauh dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi terbaru, perkembangan pendidikan, dan kritik tentang pemerintahan yang semakin semrawut saja. Dalam pikiranku mereka adalah titisan Aristoteles, Syekh Ahmad Gozali, Lucretius,Yusuf Qordhowi, Hasan Al-Banna dan punggawa-punggawa ilmu pengetahuan lainnya. Cerdas bukan buatan para mahasiswa itu. Keren juga pikirku.
Maka aku kaget ketika mendapati dihadapanku kini sebuah gedung mungil berlantai dua yang didepan pintu masuknya ada spanduk bertuliskan “ Tahfidzul Qur’an”, dan diruangan sebelahnya yang mirip kelas itu, ada toko busana muslimah. Hanya tulisan besar dan toko itu yang kuingat, selebihnya tak kuperhatikan. Tapi yang jelas dapat kusimpulkan dari tulisan di spanduk itu bahwa disini dibuka pendaftaran siswa SD Islam Terpadu. Maka kupikir, bangunan itu adalah SDIT merangkap Toko Busana Muslim, sehingga aku tak merasa bahwa itulah gedung kampus Azhar yang dimaksud.
Mataku justu tertuju kearah menara kuning bercampur warna hijau yang berdiri tegak melatari rerimbunan pohon mangga, kira-kira 70 meter dari gedung berspanduk “Tahfidzul Qur’an” itu. Lalu dengan yakin kukatakan kepada teman yang mengantarku bahwa itu pasti menara mesjid kampus Al-Azhar. Temanku itu tidak yakin, namun kutarik tangannya untuk memastikan hipotesisku. Hasilnya, ketika kami sampai didepan menara itu, temanku tertawa tertahan karena menara itu ternyata adalah menara mesjid Nurul Amin.
“Jadi, kampusnya yang mana ini?” Kataku sambil menatap kosong masjid didepanku. Aku mulai bimbang. Bayangan kampus Al-Azhar yang indah dan berwibawa perlahan menguap dari kepalaku.
Dengan sisa-sisa tenaga yang kami miliki, disertai rasa haus yang mengigit kerongkongan, kami berjalan menyusuri sepanjang jalan beraspal di lorong itu, ketika melewati gedung hijau yang berspanduk “Tahfidzul Qur’an” itu lagi, temanku menoleh dan mengatakan bahwa mungkin memang benar, itulah kampus Azhar yang dimaksud. Aku tidak terima. Kutarik lagi tangan temanku itu agar segera melanjutkan perjalanan menyusuri jalan beraspal, hingga akhirnya kami sampai didepan Gedung SMA 13. Mataku berlari kesan-kemari, mencari-cari papan nama bertuliskan “Universitas Al-Azhar Makassar” . Tapi, sampai dikompleks perumahan Pesona Prima Griya, tak kutemukan papan nama itu. Matahari semakin panas menyengat, jalanan lengang, hanya ada beberapa orang yang berjalan tergesa-gesa sambil memicingkan mata dan mengusap peluh. Yang lainnya lebih memilih beristirahat didalam rumah sambil menyalakan kipas angin daripada mengumpan diri diterik matahari siang. Untung saja, saat itu kami berpapasan dengan seorang ibu muda,yang memakai payung, bayinya mengeliat kepanasan dalam gendongannya. Kami menuju kearah ibu itu dan menanyakan dimana kampus Al-Azhar berada.
‘Permisi bu, mau nanya, Universitas Al-Azhar dimana, ya?”Tanya temanku.
‘Oh, saya juga tidak tau itu!” Jawab ibu itu dengan wajah meringis.
Maka kali ini, bayangan kampus Azhar yang indah dan berwibawa menguap 70 persen dari kepalaku. Kalau memang benar ada Universitas disini, mana mungkin masyarakat sekitar tidak mengenalnya. Lagi pula aku berpikir, mana ada Universitas dipedalaman kota seperti ini. Aku mulai putus asa. Kuajak temanku untuk pulang saja, namun ia bersikeras ingin tetap mencari kampus itu. Jam sudah menunjukkan pukul dua lebih sedikit. Kukatakan kepadanya bahwa tidak mungkin jam segini kantornya masih buka, jadi kalaupun nanti kita temukan kampusnya, kita pasti terlambat dan disuruh kembali besok. Apalagi kami sudah sama-sama lelah dan lapar, jadi lebih baik pulang saja dulu. Dia berpikir sejenak, kemudian menyetujui ideku.
Tapi, sebelum sampai dijalan raya, tiba-tiba handphone ku berdering. Ada pesan dari pemandu jalan -seorang mahasiswa Azhar, seutusan dari Luwu Timur juga- yang mengatakan bahwa memang kampus Azhar itu belum punya papan nama, atapnya berwarna hijau, temboknya bercat putih dan ada SDIT dibelakang kampus. Aku terkesiap.
“Berarti benar, gedung yang ada tulisan Tahfidzul Qur’an yang tadi kita lewati itu Kampus Azhar! Ayo kembali kesana!” Tiba-tiba temanku berseru penuh semangat. Kami memutar haluan, tidak jadi pulang. Kali ini, dia yang menarik tanganku dengan antusias.
Sebelum melangkahkan kaki dihalaman gedung Azhar itu, aku menarik nafas. Temanku menggenggam tanganku erat, ia menatap wajahku dengan pasti seolah mengatakan “Anti pasti bisa, percayalah, Insya Allah inilah yang terbaik “. Aku tersenyum. Kami kemudian pergi menemui seorang Ustadz untuk mendaftarkan diri, sesuai dengan instruksi. Aku menyerahkan foto copy ijazah,surat tanda berkelakuan baik, plus surat rekomendasi dari DPD Luwu Timur, kemudian aku mengikuti serangkaian tes. Setelah semuanya beres, aku tinggal menunggu keputusan dari pihak Azhar Center. Dan akhirnya tepat pada tanggal 8 Oktober 2009, pukul 13:53 WITA, aku mendapat pesan dari pihak kampus bahwa aku diterima menjadi mahasiswi STIS Al-Azhar, konsentrasi Ekonomi Islam.. Tak dapat kugambarkan bagaimana perasaanku ketika itu, senang bercampur bimbang, aku tersenyum getir menatap pesan itu. Pikiranku melayang jauh, tersedot oleh dimensi waktu yang berbeda. Lalu teringat kembali proses panjang penuh kebimbangan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar memilih Azhar Center. Jauh hari, sebelum aku lulus dari SMA tercinta, sudah kurencanakan sedemikian rupa masa depanku, serapi-rapinya. Bahkan aku selalu tersenyum ketika membayangkan bisa lulus disalah satu Universitas paling diinginkan di kota Makassar. Lulus menjadi mahasiswi dalam jurusan yang sangat kuidam-idamkan. Tapi sayang, Allah tak menginginkan aku berada di Universitas itu. Sesuatu yang lebih baik ternyata menungguku, meskipun sebenarnya sangat berlawanan dari apa yang kuinginkan Meskipun awalnya aku merasa tidak menjadi diriku sendiri. Aku tertekan dengan mata kuliah yang sama sekali asing bagiku. Setiap kali belajar, aku merasa sangat tersiksa karena tak mengerti apapun yang dikatakan Dosen. Bayangan kegagalan menari-nari dipelupuk mataku. Aku semakin stress. Peran sebagai utusan daerah, bagaikan belenggu bagiku, yang benar-benar membuatku takut tidak bisa memberikan yang terbaik jika melihat kualitasku yang ada sekarang ini. Aku berpikir, entah apa yang menjadi pertimbangan para penghulu didaerah hinnga memilihku. Aku merasa tidak pantas mendapatkannya
Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa menyikapinya dengan Arif. Semangat dan dukungan dari kakak-kakak diasrama perlahan menyadarkanku dari rasa pesimisme. Mereka bilang, perasaan seperti itu wajar, karena mereka pun merasakan hal yang sama saat pertamakali berada di kampus Azhar. Mereka seperti secercah cahaya yang menerangi nebula gelap fikiranku. Ada cermin dikedua matanya, tempatku berkaca dan mematut diri. Ada nyanyian surga dikedua bibirnya, tempatku mendengar suara-suara nurani. Ada pilar dikedua bahunya, tempatku bersandar dari kerapuhan hati. Ada saputangan dikedua tangannya, tempatku menghapus luka dan perih. Ada semangat dalam langkahnya, yang mengajarkanku untuk berjuang tak kenal letih. Mereka adalah keluarga terbaik yang pernah kumiliki. Walaupun terkadang ukhuwah itu berhias perih dan airmata yang disebabkan rasa sakit hati yang ditimbulkan oleh kekhilafan masing-masing. Tapi biarlah seperti itu, toh kami semua masih dalam proses perbaikan, kami selalu berusaha untuk saling mengerti. Kami semua menyadari bahwa, tak perlu merasa gusar dan bersempit hati atas sikap keliru itu, milikilah hati yang bagaikan samudera maaf tak bertepi, meski terkadang memaafkan itu terasa begitu sakit dan menyesakkan dada. Namun, kebaikan itu juga terlalu sia-sia untuk diracuni oleh amarah dan benci. Selain itu, motivasi dan teladan yang diberikan ayah dan ibunda dosen, berhasil membuka fikiranku tentang seperti apa hidup yang sebenarnya. Mereka dengan segala kesederhanaan yang dimiliki, dengan segala pengorbanan yang diberikan kepada kami, membuatku terharu dan merasa sangat beruntung berada ditempat ini, ditengah orang-orang yang mulia. Memiliki dosen-dosen hebat, pahlawan tanpa tanda jasa. Karena pada hakikatnya mereka pun tak ingin apa-apa dari kami. Hanya satu harapannya untuk kami. Yaitu melihat kami terbentuk menjadi generasi penerus estafet dakwah yang berkualitas dan berakhlak mulia. Hanya itu yang mereka inginkan. Hanya itu. Pernah suatu ketika, secara tak sengaja, aku membuka file-file dikomputer perpustakaan, lalu aku menemukan file gaji dosen. Kubuka data itu, dan alangkah terkejutnya ketika kudapati gaji dosen di Kampus Al-Azhar bahkan lebih kecil dari gaji guru SD. Dan rasa kagum serta penghormatanku pun semakin melambung seiring airmata yang mengalir di pipi.
600 ribu kawan, 600 ribu perbulan gaji dosen kita. Jika difikir, akan sampai dimana uang itu bertahan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus melonjak dan tak terduga seperti sekarang ini. Apalagi untuk ukuran kota Makassar. Aku bahkan berfikir, dalam rentang waktu satu bulan itu, pasti ada diantara dosen kita yang kehabisan beras dirumah mereka. Lalu, mengapa mereka mau repot-repot mengurusi mahasiswa Azhar. Membuang-buang waktunya untuk mendidik kita. Lelah dan penat. Menguras isi kantongnya untuk menutupi biaya-biaya kampus, dan kepentingan perkuliahan mahasiswa Azhar. Habis, terkorupsi, terkorosi.
Kawan , kalau mereka mau, dengan kualifikasi seperti itu, mereka bisa saja mengajar ditempat lain yang lebih bisa memberikan kenyamanan finansial, dan materi yang mencukupi. Tapi tidak. Mereka terus saja memfokuskan seluruh fikiran dan tenaganya demi kita. Sehingga, jika ada penghargaan tertinggi, maka Dosen Azhar lah yang berhak mendapatkannya.
Dimana lagi bisa kudapati Dosen-Dosen mengagumkan seperti ini, selain di Azhar Center. Dimana lagi suasana perkuliahan yang aman dan terjaga bisa kudapati selain di Azhar Center. Maka, kampus ini, dengan segala apa yang ada didalamnya, benar-benar memberikan kesan yang begitu indah dan takkan pernah terwakili meski ditulis dengan tinta emas. Betapa beruntungnya aku….
Setelah semua yang kulewati, setelah pertarungan panjang melawan egoisme dan kebimbangan, maka aku yakin inilah jalan yang dipilihkan Allah untukku. Ada suatu hal yang menakjubkan menungguku dibalik gedung berwarna putih beratap hijau itu. Dan benar, disanalah aku mengumulkan kembali azzam yang berserak, mengetahui hakikat sejati tentang hukum-hukum Allah, yang selama ini dinafikan oleh umat manusia. Mulai saat itulah, kuubah arah lokomotifku mengikuti rel para Perintis Kebangkitan Syari’ah, yang mengazzamkan dirinya demi kebangkitan, dan tegaknya hukum Allah dimuka bumi. Tak berlebihan, aku mencintai Azhar Center dengna segenap jiwaku, jika ada yang memarginalkan dan mencibir kampus kami, aku akan berkata “ Kau tau apa tentang Azhar Center? Don’t judge the people by the cover!”. Sehingga apapun yang terjadi, jika Allah masih percaya kepadaku untuk menjalankan amanah ini, jika aku memang masih pantas menjadi mahasiswi Azhar, dengan segenap daya yang kumiliki, akan kukerahkan jari-jemari ini untuk mengukir cinta diatas pelangi, meski redup meski terkatup. Karena inilah jalan yang kupilih, maka aku harus siap dengan segala konsekuensinya. Dan aku berharap, warna apapun yang kubawa di tempat ini, bisa memberikan nuansa tersendiri, berbaur mengukir kisah diatas pelangi Azhar bersama keindahan warna pelangi yang lain. Semoga saja…

Makassar, Mei 2010
Azhaar Al-Khansa’
Semoga Istiqomah…hingga Khusnul Khotimah…

posted under |

Tidak ada komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

"Your Messages Here...!"

Jam

Mengenai Saya

Foto saya
AKU... ENTAHLAH... YANG JELAS AKU ADALAH DIRIKU.. TAK PEDULI ORANG BERKATA APA.... DIRIKU YANG TAK SEMPURNA INI HANYA INGIN SELALU MEMBERI ARTI..

Followers


Recent Comments