" Kepada Ukhti "

Berjumpa denganmu dalam suatu masa…
mengantarkan diri ini pada labirin hidup yang penuh hikmah…
Biola tua dalam hatiku perlahan tergesek oleh hangatnya angin persahabatan yang kau bawa.
Bio;a tua itu seperti menemukan gemanya. Ia menyala, mengalunkan nada ceria yang telah lama kehilangan raga.
Bersama hujan, pelangi dan jalan berbatu… kita terbentuk menjadi kepompong yang perlahan bermetamorfosa.
Segala indah, segala ceria. Meski air mata mengalir menganak sungai, meski pilu melambai-lambai. Bahkan diujung perih kita pun, kudapati airmata itu berubah menjadi berlian sangat kemilaunya.
Sungguh teman, jemariku kacau menuliskan kata-kata yang tepat tuk melukiskan indahnya pertemuan kita di suatu masa dijalan Dakwah… Telah kucari, kubolak-balik perbendaharaan kata dan segala metafora dalam kepala dan hatiku, namun tak jua kutemukan kata yang indah berbunga-bunga. Karena baru kumengerti, persahabatan kita adalah puisi dan majas terindah sepanjang masa…
Ukhti, Kau adalah cerminku, tempatku berkaca dan mematut diri, matamu memantulkan bayangku, yang selalu mengingatkan betapa kita harus banyak berbenah diri.
Kita semakin dewasa, teman. Kuingat dulu engkau adalah ulat bulu yang lucu dan menggemaskan, lalu tiba-tiba kau mengenakan selimut suteramu, membungkus dirimu dengan kain terindah didunia. Izzahmu terpancang tinggi menggapai kemuliaan.
Kita semakin dewasa. Dan kita terus bermetaforsa. Persiapkan sayap terbaikmu…
Untuk kita penuhi janji-janji sepi yang kita ikrarkan diantara sinar rembulan dan desau angin malam. Karena kau tau teman, ada berjuta bintang yang berkedip, menyaksikan janji dan mimpi itu.
Kemudian sebagian bintang itu turun menabrak atmosfer bumi, menciptakan bunga api yang memercik dalam dada dan aliran darah, membuat kita yakin akan kepastiannya.
Malam ini ukhti, ketika kau pandang bintang-bintang itu dari belahan dunia dimana saat ini kau berdiri, maka akan kau dapati bintang-bintang itu tetap sama. Mereka taat pada titahNYA.
Dan meskipun jarak menjauhkan kita…. Namun kita masih punya Rabithoh yang akan menghimpun hati kita dalam ketaatan padaNYA.
Dunia ini hanya ladang untuk berikhtiar… kau ingat kata-kata dari salah seorang Akh itu?
Hemmm… ternyata dia benar. Karena dimanapun kita berada tak menjadi masalah. Tabur kembali benih perjuangan itu, buka lagi ladang ikhtiar yang baru.
Cukuplah sepi nan sendiri mengajarkan kita tentang indahnya persatuan.
Cukuplah airmata mengajarkan kita tentang kearifan.
Cukuplah badai mengajarkan kita tentang kesabaran.
Cukuplah perbedaan mengajarkan kita tentang manisnya dinamika keindahan.
Cukuplah perpisahan mengajarkan kita tentang cinta dan kerinduan. Karena cinta mudah luntur dalam kerapnya kebersamaan, karena rindu tak kan tercipta tanpa perpisahan.
Teman, kita sedang membangun cinta. Menuai rindu dan airmata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar